20
Apr
12

“The Journey”

There is a world to be discovered

People to be meet

Roads to be passed

Colors to be seen

Live once at a time, being rich of life itself

Somehow there will be one of this day that brings you up above the peak

You get silent, nature will speaks to you

Wind will caresses your soul

Sun will washes your body

Breath big, but feel so small

You don’t speak, you don’t move, sit still

When You finally feel fulfilled by ease

You know its time to get back home

Love will accompany you to get the rest

And God will lead you along the way

- “Moon river wider than a mile, I’m crossing you in style some day.
Oh, dream maker you heart breaker, Wherever you’re goin’ I’m goin’ your way.
Two drifters off to see the world, There’s such a lot of world to see.
We’re after the same rainbow’s end, waiting round the bend
My huckleberry friend, moon river, and me”Moon River by Andy williams

13
Apr
12

“torned”

In the dark hollow, I saw your tears.

The day was all grey and your heart was cracked.

You were bend over the table, hiding from all the screams.

The sounds of broken glass was being thrown, it ripped your soul.

You were as broken as the the glass.

You were so scared, and vulnerable.

You were miles away, but I saw you in that dark hollow.

I didn’t see your face but I saw your tears

I didn’t hear you were sobbed but I heard your heart was scream.

Then I was embrace you, I held your hand.

The phone was our fingers gripped.

23
Jan
12

“Sesesap keindahan”

Malam ini saya mendengarkan sebuah lagu dari Bon Iver dengan judul I can’t make you love me. Entah kenapa memang ada ketertarikan tertentu dengan karya seni yang sifatnya sendu. Mungkin ini tidak dirasakan semua orang, namun karena karya seni sendiri merupakan manifestasi dari ekspresi emosional yang diolah secara kreatif dengan capital berupa bakat, maka lahirlah karya-karya original yang memang menyentuh. Dan seringnya karya-karya semacam itulah yang bisa berbicara. Baik lagu, film, lukisan, sendra tari, teater, novel, puisi, patung dsb.

Karya-karya tersebut bisa menciptakan dialog dengan para penikmatnya. Sering kali bahkan menyihir penikmatnya masuk ke dalam dimensi emosional yang sama dengan pencipta karya tersebut. Baik yang bersifat sendu, menyentuh, ringan, menghibur, megah, atau pun khidmat. Sebuah “masterpiece” adalah suatu karya yang secara general bisa dipastikan berasosiasi dengan satu kata setelah dinikmati: Indah. Seringnya masterpiece merupakan kombinasi dari kejujuran dan ke-jenius-an. Namun tidak jarang masterpiece hanya merupakan suatu manifestasi atau objektivasi eksperesi yang dilakukan secara total.

Semua manusia pasti memiliki emosi dan perasaan, namun hanya beberapa yang dianugerahi kemampuan untuk memanifestasikanya menjadi seni yang dapat dinikmati oleh mereka yang terlahir sebagai penikmat. Namun dapat dipastikan Tuhan memang memiliki selera akan estetika yang tinggi. Karya-Nya berupa alam dan makhluk yang mengisinya sering kali membuat kita berdecak kagum akan keindahanya. Baik sekuntum bunga yang sedang merekah, perpaduan menyenangkan dari ombak laut, pasir putih, dan karang di pantai. Ketenangan dan perasaan syahdu saat memandang hamparan luas kebun teh hijau dilatar belakangi keindahan gunung di belakangnya. Kecantikan dan keindahan fisik manusia. Namun yang lebih hebat adalah, Tuhan telah menciptakan salah satu karya milik-Nya yang terasa seperti dual production yaitu manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan akal, budi dan naluri. Terasa seperti nalar dari kapitalisme, saat memproduksi karya yang dapat menghasilkan kembali karya karya indah yang berkali lipat. Tidak hanya karya seni, namun juga seluruh peradaban yang agung. Sungguh indah menyadari manusia adalah masterpiece dari Tuhan

Menyentak kita masterpiece ada dimana-mana, dan selalu membuat kita hanyut dalam campuran kekaguman dengan euforia emosional. Membuat kita menyesap keindahan dengan khidmat untuk sesaat. Moment sesaat itu sendiri dapat kita sebut “seni”

19
Jan
12

“Lonesome Humming bird”

When life brought you to new phase, you got to face new changing. Start by the changing of social pattern. Some people gone from your life, for a while there is a dimension where you just there with your own self. When there is no stronger trigger, sometime you just stick on that transition moment, you can’t freshly build the new life and enter the new phase, but you also already losing the old phase. You’ll be end up sad, but you can’t cry. You can’t force situation. It just felt like you are in between. You’re longing for  the old phase, you did lots of hindsight but what left is you gotta move forward, yesterday wont come, the only way to have it back just by only vaguely wishing for future to offer that yesterday back, and work for that future in this present time.

The lonely bird is in that dimension now, she miss her old friends, she miss her love, but she can’t say the words to anyone. She just keep quiet, because words would not change anything.  She knows what she need to do is to get through this transition, finish the new phase, and moves out to find her real life that waiting out there.she just wishing  that she would find the happiness of her yesterday on her future…

But at least by being in this transition, its knocked you to ask your self “what do you want for your life, and what do you do for others, and where or who is your home will be?” meantime you’re just the lonely humming bird…

29
Oct
11

“Berhentilah sejenak, jika ini kelabu”

Saat langit pun ikut meredup…

Benar dikata bahwa Tuhan seringnya berbicara kepada kita melalui berbagai tanda yang selalu dikirim-Nya di sekitar kita, namun terkadang  manusia lah yang tidak peka. Manusia tidak mengoptimalkan penggunaan akal, budi, naluri dan perasaan dalam mengolah berbagai macam tanda yang Tuhan telah kirimkan untuk kita belajar. Yang lebih kelam adalah terkadang manusia sadar akan tanda tersebut, namun berusaha mengabaikan, demi tujuanya atau kesenangan lain yang sesaat.

Ini adalah hari sabtu, malam minggu kata orang Indonesia. Hari yang identik dengan kata “senang” tempat orang mengistirahatkan segala kepenatan selama weekday. Tempat para kekasih menyebut “quality time” untuk merefleksikan cinta dan berbagi romansa. Tempat para muda mudi bersenang-senang, mengarungi kota. Ramai, gaduh, penuh tawa, jika ada beban pun diletakan, demi tujuan mulia yang efektif yaitu:”Penyegaran”. Sehingga saat siklusnya diulang, hari senin tiba, mereka kembali dengan segar untuk mengarungi kepenatan weekday.

Namun hari Sabtu ini tidak menawarkan keceriaan bagi beberapa jiwa. Sabtu ini lebih mendekati warna kelabu.

Apa yang membuka hari mu biasanya akan menegaskan kualitas hari tersebut. Bagaimana jika membuka mata di pagi hari, dan disambut dengan kabar dari salah seorang sahabat nun jauh disana. Seorang sahabat dengan karakter ceria, humoris, dan identik dengan gelak tawa di sekelilingnya. Selalu penuh semangat, sering menyulap situasi yang gundah berujung menjadi tawa bodoh. Sahabat perempuan yang cukup cerdas  dengan rekam jejak edukasi yang cukup baik serta menjadi anak kebanggan orang tua nya. Dan  tiba tiba pagi harimu dibuka dengan kabar sahabat tersebut harus beristirahat sejenak dari rutinitas normal hidup  karena ada gangguan kesehatan pada organ otaknya, yang mungkin berujung dengan operasi besar, serta resiko tahun-tahun berikutnya yang mungkin tidak sama. Kelabu? tepat kan.

Pertanyaan mulai bermunculan di dalam kepala. Beberapa hal lain yang tak berhubungan namun bergaris merah sama yaitu “kesedihan” pun terlintas: bagaimana keadaan kasih ku yang sejak kemarin siang demam tinggi dan malang nya tepat terjadi saat dia sedang test. Teringat tugas akhir yang belum juga selesai di masa studi yang sudah harus segera diakhiri. Teringat beberapa tema- teman yang sebentar lagi lulus dan meninggalkan kota ini. Teringat kawan kawan yang di masa lalu sangat lugu, namun malangnya sekarang terjebak dalam mis-interpretasi modenitas dengan output dekadensi moral.

Sekejap hal yang nista muncul di kepala, tanda kelelahan yang berbahaya: Tuhan mengapa semakin lama aku hidup di dunia, semakin banyak  kesulitan yang melelahkan, dan mengapa semua orang yang aku kenal di sekitar ku perlahan pun tampak frustasi, atau lelah dengan kompleksitas masalah dan musibah yang semakin berat. Takut aku setelah mampu bertanya hal tersebut.

Sore ini hujan. Sungguh kelabu. Menyalakan jaringan internet, membuka suatu tulisan dari blog seorang penulis intelektual yang kreatif, pecinta seni yang telah diberi berbagai macam penghargaan nasional dan internasional: Fahd Djibran. Satu tulisan berjudul “kau yang mengutuhkan aku”. Bercerita tentang bagaimana niatan menjadi suci dari segala godaan duniawi, demi menjaga diri dari larangan tuhan, serta mencintai dengan cara menghormati, untuk tujuan mulia: pernikahan. Menjaga dari nafsu duniawi sepasang kekasih, menjaga keluguan, sampai hari yang halal pun tiba. Sungguh tulisan yang cantik dan bersahaja, membuat pembaca merenung sejenak, dan menyadari kembali apa makna mencintai dan menjaga cinta. Tidak hanya saling mengungkapkan kasih, namun juga menjaga bersihnya hubungan dari sesuatu yang masih belum legal. Satu bait kutipan dari tulisanya yang membuat kita merenung:

“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”

Begitulah. Tidakkah sabtu kelabu ini berarti tuhan mengirimkan tanda? Menyentil kami untuk berhenti sejenak, merenung, berpikir dan mawas diri. membuat kita mulai bertanya : Apakah makna hidup ini?  apa yang telah kita lakukan di dunia ini? Membuat sadar, nampaknya definisi dan parameter hitam putih telah  bergeser di dunia ini, sesuatu yang disadari namun diabaikan. Tidak kah itu membuat mu rindu tuhan? Ingin menangis dipeluk-Nya, merasa lemah dan butuh dituntun-Nya.

Dan seketika pikiran ini limbung, penuh kebingungan. Mana yang benar, mana yang salah? Prioritasku benarkah? Adakah mereka harus kuabaikan? adakah mereka yang lain harus lebih aku perhatikan? Adakah prinsipku harus dikuatkan?

20
Oct
11

“We’re Just the Bird that Stopping by”

-A towel left hanging on the wall
No sign of wet footsteps in the hall
There’s no smell of your sweet cologne
In an instance, you were gone
And now I’m scared-

 

12 october 2011. Opened my eyes in the morning. I fell silence and petrified. “Is it today?”.  I barely think or feel anything. It was a long preparation for that day, a week, a month, an entire relation maybe. A lots of grieves, skeptical, and frights.

 

They said change is constant. People are moving. They come and go. Structurally and practically, relations always transformed. But no doubt Humans are alive flesh. This sense and logic built us a life. We can think, we can feel. We adapt, we survive, we cry, we laugh. We role into a new zone, finding comforts in that zone, role outta that zone, finding new ones. And the cycle keeps turning. Only death stop us from moving, literally and metaphorically. But one thing for sure, you didn’t walk alone. You always run this life with few people on it. You met some on the way, you get closed, some will stay while some just gone. Some other will accompany you till death do you guys apart. They are our parents, our sister, brothers, bestfriend, and Lovers.

 

12 October 2011, I  felt like I lost a partner, a best friend, a brother, a good listener equally a teacher, and a lover. I lost brunch with hours of unstoppable discussion and passionate brainstorming, lunch of exchanging knowledge, dinner of super stupidity and laughs, coffee time with hours of story telling, eye to eye with hours of affection, hours of care and perhaps a glance of surprises. Instead of asking what we have, better said what we don’t have. Its a richness even in the most simple circumstance. We get mature, but we often being childish. We suggest, we deny, we bargain, at last we always found a harmony. There is only few of rough time, condusivity wasn’t that hard to build around us. Don’t felt like a mainstream world though.

 

12 October 2011 he left this city. Its not a zero-sum result of course. Our humane sense naturally will mourning, its a big lost. But our logical strength will adjust the new pattern, we’ll adapt the new us, we’ll adapt the physical distance. There is further goal to be achieved, only by dynamically moving to the next level we’ll get there. changing is constant and its only part of the big picture, called it process.

 

We’re just the birds that stopping by right? Somehow someway we’ll fly, seek for a new stop by. Or at last look for a permanent home. Up and down, that what makes you a person. Our fear will always defend us to develop. As fear comes up, just get peace with it. Sometime we should set loose our control. See where the water flow, and follow the rhythm, when you already do, you can back again, be the king on that field, tighten up your control. Life is like a game, the point is you know how or when to use and play the right tools.

21
Sep
11

“Romansa”

Manis sayang..

Kita lukis kota ini bersama

Beri guratan pada pojok  kanvas yang kosong

Biarkan jalanan iri jadi saksi tawa kita

Selalu tawa lepas yang mengebiri penat

 

Terkadang  ada waktu yang tak dapat dihitung

Saat entah berapa kali jam berdetak dan kita terdiam

Diam yang khidmat sembari merasakan cinta

Membuat makna berbicara melalui hening

Aku hanya hitung kedip matamu

Semua ditangkap dalam detail

setiap gurat di wajahmu, helai rambut, dan aroma yang khas.

 

Aku suka kebebasan ini

Kekayaan saat kita bersama

Keunikan identik yang khas milik kita

sejenak membuat kita berenti berpikir

Hanya menikmati dunia kita sendiri

Kecerdasan yang membuat banyak hal jadi cukup

Membuat kedewasaan yang penuh kontaminasi jadi kekanakan yang ringan.

Berhenti menghitung dan menimbang

 

Mari jaga seimbang harmoninya

Tak ada yang tahu esok mentari bawa kabar apa

Potretlah mimpi kita dan gantung di kepala kita

Namun hargai hari ini, saat hidup tawarkan bahagia.

Nikmati cinta yang ditawarkan dimensi ini

Mari tulis cerita untuk memoar pada senja di kala tua.

 

PS: you got the key to explore my heart now. Explorasi alam di pantai  dahulu itu hanya bagian kecil dari pondasi bangunan ini. :D

21
Sep
11

“Kehidupan”

Pencapaian terbaik kehidupan adalah keseimbangan.

Waktu paling manis dalam kehidupan adalah saat mencintai dan merasa dicintai.

Perenungan paling khidmat dalam kehidupan adalah saat sendiri atau bersama tuhan.

Waktu yang sarat dengan memoar kehidupan adalah senja dan menjelang fajar.

Pojok paling kelam dari kehidupan adalah di kala tersesat.

Kemalangan dalam kehidupan adalah kebodohan dan kedangkalan.

Musuh paling berbahaya bagi kehidupan adalah ketakutan dan kemalasan.

Kesuksesan dengan ambisi adalah hiasan kehidupan, Kesuksesan dengan makna adalah idealism kehidupan.

Kekejaman dalam kehidupan adalah pemarjinalan.

Kekayaan kehidupan adalah kehidupan itu sendiri

dan katakan padakau jikalau memang benar bahwa keindahan fajar adalah heningnya…..

25
Mar
11

“Pekarangan, Pantai, Itali dan Tulip”

Lingkaran ini menyesatkanku

bermula pada satu titik tak disadari

Lalu ritmenya mulai berjalan, mengitari

Tak bisa kutilik mana ujung dan mana akhir

 

Yang aku tahu

Lingkaran itu membawaku pada malam malam itu

Puluhan kala aku habiskan dengan langit-langit kamar

Melamun bersama nyanyian tentang lara.

 

Mereka Berkata manusia dewasa itu memanglah rumit

Manusia dewasa itu telah menenun ribuan benang kehidupan

Perkaranya mereka terkadang terjebak dalam benang itu

Dapat Lupa, delusional, atau terperangkap.

 

Jika tidak biru sendiri maka haru untuk tulip pertama

Konon bercerita tentang dongeng menjadi seorang dewasa

Bagaimana ritme isi kepala adalah perkara tak berkesudahan

Tampak melelahkan dan tak ada tarik nafas istirahat.

 

Jika tidak menunggu maka khawatir

Selalu ada yang dapat dijadikan alasan

Kadang kuingin kembali pada simplifikasi

Pulang ke pekarangan di belakang rumah.

 

Namun aku tak bisa lari dari pantai ini

Pekarangan dan bunga turi itu telah jadi abu abu

Aku menangis, air mata untuk ketamakan jalan pintas

Lalu aku mulai berkhayal tentang  itali.

 

Ingin sekali aku ditarik ke itali

Bermain dengan bangunan tua dan tak temu lingkaran

Pergi, buang benangnya dan tenun yang baru disana

Tapi aku cinta rumah di pantai dengan harum asinya.

02
Jan
11

“Metafora menjalang fajar”

Kau adalah ketaktisan praktikal,

sementara dia adalah spektrum imajinasi

Kau adalah pagi dan siang,

sementara dia adalah senja dan fajar

 

Dia membuatku tak gentar

bagai si budak memeluk sang dewa

sedang kau membuatku tak gusar

bagai logika menapaki dunia

 

Tak akan kujadikan kasta metafora ini

jika aku tak gentar maka aku tak gusar,

namun saat aku tak gusar apakah aku dapat tak gentar ?

 

 

 

kupegang sang siang yang taktis

untuk menapaki realita sistematis yang dangkal

namun kurindukan sang senja

Untuk menyuapi jiwa dengan nyanyian memabukan

 

Saat petang menjelangi fajar

maka sulur sulur memori pun dapat hidup,

dan monochromatic  pun dapat membiaskan sebuah spektrum

 

Jadi  tak inginkah kau kukenang

bagai sebuah makanan jiwa ?

Apakah kau tidak merasa

bahwa nyata tanpa bayangan itu terlalu dangkal ?

 

Lantas cundangi dan canduilah aku

ku ingin lemah dilayukan gairahmu

karena dengan menjadi budakmu

ku tunjukan kau keindahan ku

 

kau mengajariku tersadar,

dia mengajariku melamun.

Kau menapaki dunia yg hidup,

dia melayang dalam angan yg kabur.

Kau kulihat dia kuhirup

 

Belajarlah dari dia bagaimana menjadi asa dan lagu..

lantas saat kau sudah dapat kukenang,

akan aku untaikan logika yg berwarna perasaan

 

Tak ku kecilkan kau daripada dia..

tampak dalam Acuan yg aku serukan

ucap & doa tetap lah untukmu

ku hanya ajari kau bagaimana menjadi candu

 

Tetaplah pegang taktismu,

tetaplah menjadi media realitaku..

Karena kau pertama dlm tak gusar-ku..

namun berlarilah bersama nyaliku..

 

Dan kututup metafora ku dg sambutan pada sang fajar

induk dari pagi, tempat realita sistematis ditapaki

Sebuah Kala pemarjinalan idealisme dan gairah..

 




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 583 other followers